Minggu, 15 Maret 2009

Cerpen

Jauh Mimpiku

Muhammad Iqbal

Bulan september waktu itu, ketika Rey begitu dekat dengan wanita itu, sebut saja namanya Tiwi, Ia sangat dekat dengan wanita itu, tapi tidak di sini, tidak di alam ini, tapi di alam mimpi. Oleh karena itu, begitu dekatnya Rey dengan Tiwi, membuat Dia berusaha untuk menyampaikan apa yang Ia rasa dan apa yang Ia alami di alam itu, tetapi terlalu susah untuknya mengutarakan semua itu, Ia tidak ingin kedekatan ini berubah jika Ia mengatakannya.

“Sudah lama ya, kita tidak melihat bintang-bintang?”kata Tiwi sambil melihat ke arah angkasa. Kearah langit gelap yang dipenuhi bintang. Menatap bintang-bintang. Juga menatap rembulan.

“Ah, tidak juga”, jawab Rey dengan santai-santai.

“Sudah lama!”

“Tidak juga.”

Rey memerhatikan Tiwi sejak tadi. Ia terus menerus menatap ke arah langit. Menatap bintang-bintang dan bulan. Menikmati keindahan malam.

Menikmati keindahan ciptaan Tuhan. “Eh, sudah lama ya kita tidak melihat bintang-bintang?”Tanya Tiwi lagi.

Sekali lagi Ia bertanya dengan pertanyaan yang sama kepada Rey.

“Tidak juga.”

“Kamu ini bagaimana sih?”

“Lho apanya?”

“Kita kan sudah lama tidak melihat bintang-bintang di langit?”

“Baru enam bulan yang lalu, Tiwi sayang.”

“Berarti sudah lama kan?”

“Iya deh.”

Tiwi terus saja menatap kearah langit. Mengamati bintang-bintang di langit. Mengamatinya satu persatu. Juga mengamati bulan.

Tapi Ia lebih suka mengamati bintang-bintang. Mereka berdua memang selalu ke tempat ini. Sebuah tempat yang indah dan sangat strategis untuk melihat bintang-bintang.

Tapi Rey hanya sekedar menemani saja. Sebenarnya Rey hanya suka melihat bintang tanpa perlu mengetahuinya,

“Hei, Aku mengajak kamu ke sini untuk bersenang-senang!”gerutunya kesal. Tiwi bangkitdan berkacak pinggang. Berpaling ke Rey sambil melotot.

“What?”Roy bertanya-tanya. Masih sambil berbaring. Melihat ke atas.Melihat ke bintang-bintang. Juga menatap rembulan. Tiwi masih saja berkacak pinggang dan cemberut.Roy langsung memeluknya.

“Jangan ngambek donk.”

“Hmmm.”

Tiwi tidak menjawabnya malah tersenyum manja.

“Ayo kita lihat bintang lagi.”

Mereka pun berbaring di rerumputan. Kembali melihat bintang-bintang dan menghitungnya satu persatu. Menatap keindahan bintang-bintangsambil mengunyah biskuit.

Betapa indah dan megahnya ciptaan Allah semesta alam.

Tiba-tiba…

“Hei, lihat ada bintang jatuh!” Ujar Tiwi sambil menunjuk sebuah bintang jatuh.

Tingkah Tiwi tentu saja lagi-lagi mengagetkan Rey yang masih mengunyah biskuit. Hampir saja Dia tersedak.

“Hmmm.”

“Make your wish!”

“Buat apa?” Tanya Rey dengan heran, dengan mulut penuh biskuit.

“Kata orang-orang kalau ada bintang jatuh, make your wish and your wish will come true!” jawabnya bersemangat.

“Aku tidak percaya dengan hal-hal yang seperti itu, aku lebih percaya dengan Tuhan.”

“Lho, apa salahnya?”

“Baiklah!”

Rey pun berkomat-kamit tidak jelas layaknya seorang dukun. Dan, supaya Tiwi tidak mengetahui apa yang Ia inginkan.

“Sudah?” Tanya Tiwi penuh selidik. Rey Cuma tersenyum.

“Boleh aku tahu?” cecar Tiwi.

“Tidak boleh donk,” Jawab Rey. Masih sambil mengunyah biskuit renyah yang dibawanya waktu itu.

Itulah Tiwi wanita bertubuh mungil yang cantik dan selalu riang, selalu penuh dengan cerita-cerita dan terus bersemangat, dan memberi Rey banyak arti.

Rey hanyalah seorang yang pendiam dan bukan orang yang populer, tapi Tiwi tetap antusias dan ingin dekat dengannya. Sungguh Rey benar-benar mencintainya.

Tapi baru sekarang Rey sadar sepenuhnya. Ternyata Ia hanya bermimpi. Mimpi menjejakkan langkah kakinya pada waktu lalu. Mimpi menggantungkan rasanya di kolong langit dalam memandang bintang bersama Tiwi. Mimpi menghitung barisan bintang. Mimpi dipeluk hembusan angin. Mimpi bercinta dengan bidadari di sepanjang malam bersama Tiwi.

Rey terjaga di malam. Weker mungilnya menunjukkan waktu telah lewat tengah malam. Setengah dua lebih sepuluh menit. Kamarnya masih terang karena belum sempat mematikan lampu saat tertidur sambil mendekap dua lembar kertas surat yang diterimanya tadi siang.

Setelah waktu berlalu dua tahun perpisahan dengan Tiwi. Pagi itu, seperti biasanya tak beda dengan sebelumnya. Kalender yang tetap berupa angka-angka, dengan catatan sana-sini tentang kegiatan hariannya yang tak juga berubah.

Sesaat Rey tertegun dan tersadar melihat tangga yang sengaja Ia tandai dengan spidol biru. Hari ini tepat ulang tahunnya yang ke-19. Hampir saja Dia melupakannya. Sambil bersandar di kursi, Rey memejamkan mata.

Waktupun melesat secepat peluru. Begitu juga usianya.

Semakin dewasa tetap sendirian. Hari demi hari yang diisinya dengan menulis dan belajar di sekolah. Belum lagi pekerjaannya yang lain-lain.

Banyak orang yang menilainya sebagai orang yang gila kerja, tapi dia tak peduli, karena hanya itu yang bisa mengisi hari-harinya yang sepi.

Di saat senggang Ia menghabiskan waktunya dengan membaca, tapi tak satupun orang yang tahu akan kesedihannya, saat dia suka merenung belakangan ini, sambil berdzikir dan shalat malam, “Ya Allah! Aku mengharapkan rahmatmu, oleh karena itu, jangan Engkau biarkan diriku sekejap mata tanpa pertolongan atau rahmat dariMu.

Perbaikilah seluruh urusanku, tiada Tuhan yang brhak disembah selain Engkau.”

Itulah sepenggal doa yang sering dipanjatkan Rey di setiap malam-malamnya tanpa pernah terlewatkan setiap malamnya.

Setiap malam tak lupa Ia panjatkan doa untuk yang tercinta Tiwi, “sekarang Ia telah tiada, Dia telah pergi untuk selama-lamanya, kecelakaan dahsyat dua tahun yang lalu itu telah merenggut nyawanya.”

Kasihan memang nasib seorang Rey, Ia ditinggal pergi kekasihnya disaat Ia benar-benar mencintainya dan tak sanggup berpisah dengannya.

Sementara waktu berjalan, sampai pada suatu hari, Rey menemukan sesosok wanita yang setidaknya bisa sedikit menggantikan sosok Tiwi, Sebut saja namanya Amanda.

Sudah 5 bulan hubungan mereka berjalan dan sampai pada saat itu juga, Rey masihbelum bisa melupakan sosok Tiwi yang selalu membayangi setiap mimpi-mimpinya.

Dan ternyata sejak lama Amanda merasa kalau Rey tidak pernah mencintainya.

“Rey, Kamu ada waktu ngga?”

“Kenapa?”

“Aku mau bicara empat mata dengan kamu.”

“Ya udah, kita ke kantin aja,

lagian guru sedang rapat jadi kita ngga belajar.”

Mereka pun berjalan menuju kantin yang tak jauh dari kelas mereka.

“Kamu mau bicara apa?”

Dengan serius Amanda memulai,

“Aku mau kamu jujur ke aku,

sebenarnya kamu cinta ngga sih sama aku?”

Dengan wajah pucat Rey menjawab,

“Iya, aku cinta kok sama kamu,

Lho kamu kok ngomongnya kaya gitu sih?” masih sedikit pucat.

“Tapi kenapa, setiap kali kamu menatapku, rasanya tak ada cinta untukku?”

“Maksud kamu apa sih?”
”Aku heran aja, Aku lihat di matamu tak ada aku di sana.”

Amanda terus saja mendesak Rey, dan akhirnya dengan terpaksa Rey mengakui semua yang dirasakan Amanda akan sikapnya.

“Baiklah, Aku akui selama ini aku berusaha untuk mencintaimu,

Tapi entah kenapa aku tak bisa?” hampir menangis.

“Masa laluku yang membuatku tak bisa mencintaimu.”

Tidak terasa Amanda meneteskan air mata dan berlari meninggalkan Rey sendiri. Ia tak sanggup menerima apa yang telah Ia dengar dari mulut Rey, nampaknya kejujuran Rey membuatnya sakit.

Dan di kantin yang sepi itu Rey termenung dengan apa yang telah ia lakukan terhadap Amanda, Ia sadar kalau dirinya telah berdosa pada Amanda.

“Tuhan…

Begitu jahatnyakah aku? Sehingga aku menyakiti

Perasaan Amanda yang begitu mencintaiku,

Aku sungguh tak tahu apa yang harus aku lakukan,

Bila memang Amanda adalah sosok yang kau kirim

Untuk menggantikan Tiwi di hatiku?

Tolong…

Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semua.”

Hari demi hari dirasakan Rey tanpa Amanda di sisinya, membuat Ia sadar bahwa Amandalah yang akan menggantikan Tiwi.

Sepulang sekolah Rey memberanikan diri untuk menemui Amanda.

“Amanda, tolong dengarkan aku, aku memang tak pantas menyakitimu

Karna aku sadar kalau aku benar-benar mencintaimu, beri aku kesempatan

Untuk memperbaiki semuanya.”

“Memperbaiki apa? Semua sudah jelas,

Kamu tak mungkin bisa mencintaiku karena kamu masih dibayangi

masa lalumu yang tak jelas itu.”

“Tapi Man, sekarang aku sadar, kalau aku ini bodoh telah

menghiraukanmu, aku sungguh mencintaimu.”

Setelah mendengar pernyataan itu, langkah Amanda terhenti dan berkata,

“Aku juga mencintaimu Rey, aku ingin memilikimu seutuhnya.”

Sambil berjalan kearah Rey.

Dan merekapun kembali bersama, Rey pun sudah membuang jauh bayang-bayang Tiwi, dan kejadian yang dialaminya dengan Amanda menjadikannya mengerti akan Arti Cinta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar